Wisatawan mancanegara kini dapat mengakses informasi destinasi, layanan pembayaran, dan konektivitas digital melalui Indonesia Travel Pack (ITP) 2026. Bank Indonesia memperkenalkan pembaruan layanan tersebut dalam rangkaian Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) dan Indonesia Fintech Summit Expo (IFSE) 2026 di Jakarta, Sabtu.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Aida S Budiman mengatakan, ITP dikembangkan untuk mengintegrasikan berbagai kebutuhan wisatawan selama berada di Indonesia. Layanan itu tidak hanya membantu wisatawan menemukan lokasi wisata, tetapi juga membuka akses informasi mengenai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sejumlah daerah.
Akses digital sejak sebelum perjalanan
Salah satu pembaruan utama dalam ITP 2026 adalah format e-book digital. Melalui fitur tersebut, wisatawan dapat memindai lokasi wisata yang ingin dikunjungi, bahkan sebelum berangkat dari negara asal.
“Indonesia Travel Pack atau ITP ini, sekarang akan punya yang namanya format digital, atau e-book. Jadi gampang, tinggal di-scan, langsung bisa. Dan men-scannya pun tidak perlu nunggu si wisman tadi datang ke negara kita. Dari negara asalnya, kalau dia bisa lihat langsung scan, dia bisa melakukan hal tersebut,” kata Aida.
Menurut Aida, konten di dalam ITP akan diperbarui secara berkala dan bersumber dari sumber resmi. Aksesnya juga tidak dipusatkan pada satu tempat. Bank Indonesia memperluas titik layanan melalui berbagai visitor touch points yang dapat dijumpai wisatawan dalam perjalanan.
Ekosistem itu meliputi bandara, jaringan telekomunikasi, kawasan wisata, serta merchant di destinasi. Sejumlah lokasi, antara lain Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sarinah, dan kawasan wisata lainnya, disebut akan menjadi bagian dari ekosistem ITP.
Tiga fitur utama ITP
ITP 2026 bertumpu pada tiga fitur yang dirangkum dalam konsep EPC, yakni Explore, Payment, dan Connect. Explore menyediakan informasi tentang destinasi wisata dan UMKM yang tersebar di berbagai daerah Indonesia.
Fitur Payment memberikan akses terhadap layanan pembayaran yang terintegrasi dalam ITP. Sementara itu, Connect memungkinkan wisatawan tetap terhubung selama bepergian melalui kartu SIM maupun e-SIM.
Aida menuturkan, dukungan konektivitas tersebut melibatkan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). “Untuk bisa melakukan itu semua, ada Komdigi (Kementerian Komunikasi dan Digital), memastikan harus connect. Jadi ada SIM card ataupun e-SIM untuk mendukung konektivitas digitalnya,” ujarnya.
Terhubung dengan ekosistem pembayaran
Pengembangan ITP menjadi bagian dari langkah Bank Indonesia membangun ekosistem ekonomi dan keuangan digital yang melibatkan berbagai pelaku dalam sistem pembayaran. Bank sentral juga akan terus memperluas konektivitas pembayaran antarnegara melalui QR lintas negara, konektivitas regional untuk fast payment, serta penggunaan transaksi mata uang lokal atau local currency transaction.
Menurut Aida, konektivitas tersebut tidak hanya diarahkan untuk transaksi ritel dan UMKM. Pengembangannya juga ditujukan untuk mendukung aktivitas perdagangan dan investasi.
Melalui berbagai inisiatif itu, Bank Indonesia menargetkan sistem pembayaran mampu memberikan layanan yang cepat, mudah, murah, aman, dan andal, sekaligus memperkuat transformasi ekonomi serta keuangan digital Indonesia.
