10.5 C
Munich

Apa yang Terjadi pada Usus Setelah Makan Mi Instan?

Harus dibaca

Mi instan tidak menempel di dinding usus atau mengendap selama berhari-hari setelah dimakan. Seperti makanan lain, mi akan melewati lambung, diproses di usus halus, lalu sisa yang tidak diserap bergerak ke usus besar sebelum dikeluarkan sebagai feses.

Usus halus melanjutkan pencernaan sekaligus menyerap sebagian besar zat gizi. Sementara itu, usus besar menyerap air dan membantu membentuk feses. Karena itu, dampak konsumsi mi instan terhadap pencernaan lebih berkaitan dengan komposisi makanan dan pola makan secara keseluruhan, bukan karena mi tertinggal di dalam usus.

Masalah utama: rendah serat

Mi instan umumnya bukan sumber serat yang tinggi. Padahal, serat berperan dalam menambah volume feses dan membantu proses pengeluarannya. Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), konsumsi serat yang cukup serta asupan cairan yang memadai dapat membantu mencegah dan meredakan sembelit.

Risiko gangguan buang air besar dapat muncul apabila mi instan terlalu sering menggantikan makanan yang kaya serat, seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Jika kondisi tersebut juga disertai kurang minum, feses bisa menjadi lebih keras dan buang air besar terasa kurang lancar.

Namun, satu porsi mi instan tidak otomatis menyebabkan sembelit. Orang yang mengonsumsinya sesekali, tetap makan sayur dan buah, serta memenuhi kebutuhan cairan berada dalam kondisi yang berbeda dari mereka yang hampir setiap hari mengandalkan mi instan dan jarang mengonsumsi sumber serat.

Kaitan dengan mikrobiota usus

Di dalam usus hidup triliunan mikroorganisme yang dikenal sebagai mikrobiota usus. Mikroorganisme ini berinteraksi dengan makanan dan ikut berperan dalam berbagai proses tubuh. Sebagian serat makanan dapat menjadi sumber makanan bagi mikroorganisme tersebut.

Penelitian NIDDK menunjukkan, pola makan yang lebih banyak mengandung serat dan makanan minim proses dapat memengaruhi komposisi serta fungsi mikrobiota dibandingkan pola makan yang rendah serat dan lebih banyak makanan olahan. Artinya, kebiasaan terlalu sering mengonsumsi makanan rendah serat dapat membatasi asupan yang dibutuhkan mikrobiota usus.

Meski demikian, belum tepat jika konsumsi mi instan sesekali langsung dianggap menyebabkan penurunan drastis bakteri baik. Penelitian terhadap 224 perempuan dewasa di Jepang memang menemukan hubungan antara konsumsi ramen yang lebih tinggi, keragaman mikrobiota yang lebih rendah, dan asupan serat yang lebih rendah. Namun, penelitian tersebut bersifat cross-sectional, sehingga hanya menunjukkan hubungan dan tidak membuktikan bahwa ramen secara langsung menyebabkan perubahan mikrobiota.

Kondisi mikrobiota juga dipengaruhi pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, usia, kondisi kesehatan, serta faktor lainnya. Pada orang dengan sindrom iritasi usus besar atau IBS, efeknya dapat berbeda. Penelitian terhadap orang dewasa Korea menemukan mi instan termasuk makanan yang cukup sering dilaporkan memicu gejala. Temuan itu dikaitkan dengan karakteristik makanan yang tinggi lemak dan mengandung gluten, tetapi tetap perlu dipahami sesuai kondisi masing-masing individu.

Menjaga pola makan tetap beragam

Mi instan tidak harus dihindari sepenuhnya. Jika dikonsumsi sesekali, mi dapat dilengkapi sayuran dan sumber protein seperti telur, ayam, ikan, atau tahu. Buah bisa disantap pada waktu makan berbeda untuk membantu memenuhi kebutuhan serat harian.

Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi, porsi, dan makanan pendampingnya. Ketika mi instan mulai menjadi menu hampir setiap hari, menggantinya secara berkala dengan makanan yang lebih beragam dapat membantu menjaga kecukupan serat dan kebutuhan sistem pencernaan.

Source link

Berita Terbaru