12.8 C
Munich

Anggota DPD RI Dorong ICF Kenalkan Cerutu Lokal ke Wisman

Harus dibaca

Indonesia Cigar Festival (ICF) 2026 di Badung, Bali, diarahkan bukan hanya sebagai ajang promosi cerutu, tetapi juga sebagai pintu untuk memperluas akses produk tembakau lokal ke wisatawan mancanegara dan pasar ekspor. Festival tersebut berlangsung pada 1–3 Oktober 2026 di Atrium Bali Collection, Nusa Dua.

Anggota DPD RI asal Bali, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna, mengatakan besarnya arus kunjungan wisatawan ke Bali menjadi peluang penting bagi industri cerutu nasional. Menurut dia, Bali menerima sekitar 16 juta wisatawan pada tahun lalu, yang terdiri atas tujuh juta wisatawan asing dan sekitar sembilan juta wisatawan domestik.

“Tahun lalu Bali menerima 16 juta turis, tujuh juta turis asing, dan kurang lebih sembilan juta turis domestik yang di mana ini adalah pangsa pasar yang sangat besar, terutama turis-turis yang memang selama ini memiliki kultur di dalam menikmati cerutu,” ujar Arya Wedakarna di Badung, Kamis.

Promosi produk lokal kepada wisatawan

Senator yang akrab disapa AWK itu menilai terdapat perubahan minat wisatawan dalam tiga tahun terakhir. Ia menyebut cerutu mulai dilirik sebagai bagian dari gaya hidup dan menyatakan produk tersebut dinilai lebih aman serta natural dibandingkan produk tembakau lain yang menggunakan filter.

“Kalau kita isap cerutu itu sebenarnya lebih sehat, dia tidak pakai filter dan langsung dari daun tembakau kering tanpa zat-zat racun, bahkan jauh lebih aman dibandingkan rokok maupun yang elektrik,” kata dia.

Pernyataan tersebut disampaikan Arya untuk mendorong masyarakat dan wisatawan asing memilih produk cerutu Indonesia. Ia berharap pasar dalam negeri tidak hanya dipenuhi produk impor dari Kuba maupun kawasan Amerika Utara dan Amerika Selatan.

“Mudah-mudahan dibanding kita impor dari Kuba, impor dari Amerika Utara atau Selatan, lebih baik kita manfaatkan tembakau dan produk Indonesia, kan begitu, karena produk Indonesia juga tidak kalah,” ujarnya.

Perluas jejaring bisnis dan ekspor

Ketua Panitia ICF 2026 sekaligus Ketua Bali Promotion Board, Opa Ewin, mengatakan festival ini disiapkan untuk mempertemukan pelaku industri cerutu, jejaring bisnis, dan sektor ekonomi kreatif. Forum tersebut diharapkan membuka peluang kerja sama dan ekspor yang lebih luas.

“ICF 2026 digelar pada 1–3 Oktober 2026 di Atrium Bali Collection, Nusa Dua, untuk mempertemukan industri cerutu, jejaring bisnis, dan ekonomi kreatif dalam satu ruang kolaborasi yang membuka peluang menuju pasar internasional,” kata Opa Ewin.

Ia mengatakan Indonesia saat ini menempati posisi strategis sebagai negara pengekspor tembakau terbesar keempat di dunia. Opa juga menyebut penerimaan cukai tembakau berkontribusi besar terhadap pendapatan negara, dengan nilai yang ia catat berada pada kisaran Rp100 triliun hingga Rp224 triliun.

ICF 2026 tidak hanya menampilkan cerutu premium. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dari sejumlah daerah turut hadir untuk memperkenalkan produk serta proses pembuatan cerutu yang masih dilakukan secara tradisional.

“Bisa cek di sini UMKM dari cerutu yang harganya di bawah Rp50.000 juga ada untuk mengubah pemikiran orang bahwa cerutu itu tidak selalu mahal dan eksklusif,” tutur Opa.

Melalui forum bisnis dan kehadiran delegasi dari sejumlah negara, penyelenggara menargetkan pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus penguatan posisi Bali sebagai pintu gerbang ekspor tembakau nasional. Opa menyebut China dan Rusia sebagai tujuan ekspor terbesar Indonesia saat ini. Kolaborasi dengan InterTabac Jerman serta kunjungan delegasi ASEAN juga diharapkan memperlihatkan daya saing produk UMKM cerutu Indonesia di pasar global.

Source link

Berita Terbaru