12.8 C
Munich

**10 Ciri-Ciri Perilaku Narsistik pada Anak yang Perlu Disadari**

Harus dibaca

Perilaku anak yang ingin dipuji, marah saat keinginannya tidak terpenuhi, atau tampak mementingkan diri sendiri belum tentu menunjukkan sifat narsistik. Dalam batas tertentu, sikap tersebut merupakan bagian dari perkembangan anak. Namun, orang tua perlu memberi perhatian lebih jika perilaku itu muncul berulang kali, terlihat berlebihan, dan mulai mengganggu hubungan anak dengan orang lain.

Pengenalan terhadap ciri-ciri tersebut penting karena perilaku narsistik dapat berdampak pada perkembangan mental dan kehidupan sosial anak. Sejumlah tanda yang perlu diperhatikan antara lain sebagai berikut.

Ciri perilaku yang terlihat dalam interaksi

1. Menguasai percakapan. Anak mungkin sering membicarakan dirinya sendiri dan berusaha mengendalikan arah percakapan. Ia sulit memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara karena merasa pengalaman atau ceritanya selalu lebih penting.

2. Merendahkan orang lain. Sikap ini dapat muncul ketika anak mengejek kemampuan teman atau anggota keluarga, maupun menganggap hasil kerja orang lain tidak baik agar dirinya terlihat lebih unggul.

3. Melebih-lebihkan keberhasilan. Anak bisa membanggakan prestasi, kemampuan, atau kelebihannya secara berlebihan. Pada saat yang sama, pencapaian orang lain mungkin dikecilkan demi mempertahankan kesan bahwa dirinya paling hebat.

4. Kesulitan berempati. Anak mungkin tidak memahami bahwa perkataan atau tindakannya telah membuat orang lain sedih, malu, atau tersinggung. Kesulitan dalam mengenali perasaan orang lain menjadi salah satu hal yang perlu dicermati.

5. Memiliki pertemanan yang sulit bertahan. Perilaku suka mengontrol, merendahkan, atau kurang memahami perasaan orang lain dapat membuat hubungan pertemanan menjadi kurang baik. Akibatnya, anak mungkin kesulitan mempertahankan hubungan yang sehat dengan teman.

Respons terhadap aturan, kritik, dan perhatian

6. Mudah marah ketika keinginan tidak terpenuhi. Penolakan atau kekecewaan dapat memicu reaksi yang sangat kuat, seperti mengamuk, menangis, atau menyalahkan orang lain.

7. Merasa pantas mendapat perlakuan khusus. Anak dapat mengharapkan perlakuan istimewa dari orang tua, guru, atau orang lain. Ia mungkin merasa aturan berlaku bagi orang lain, tetapi tidak seharusnya diterapkan kepada dirinya.

8. Sangat sensitif terhadap kritik. Kritik atau kegagalan bisa membuat anak merasa terpukul. Reaksinya dapat berupa kemarahan, sikap defensif, menyalahkan orang lain, atau kesulitan mengakui kesalahan.

9. Terus mencari perhatian dan pujian. Anak mungkin membutuhkan penghargaan dari orang tua atau teman secara terus-menerus. Ia juga dapat merasa tidak nyaman ketika orang lain memperoleh perhatian lebih banyak darinya.

10. Sering menyalahkan orang lain. Ketika melakukan kesalahan, anak bisa mencari alasan atau mengalihkan kesalahan kepada orang lain, alih-alih mengakui perbuatannya. Kesulitan menerima tanggung jawab secara konsisten perlu diperhatikan.

Meski demikian, orang tua sebaiknya tidak langsung memberi label narsistik hanya karena anak menunjukkan beberapa perilaku tersebut. Penilaiannya perlu mempertimbangkan usia dan tingkat kematangan anak, seberapa sering perilaku muncul, serta dampaknya terhadap hubungan anak dengan orang lain.

Source link

Berita Terbaru