Pertengkaran antara kakak dan adik tidak selalu menuntut campur tangan orang tua. Adu mulut ringan, saling berebut mainan, atau perbedaan keinginan masih dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar menyelesaikan konflik. Namun, ketika perselisihan berubah menjadi hinaan, makian, ancaman, atau kekerasan fisik, orang tua perlu segera bertindak.
Menurut Cleveland Clinic, orang tua sebaiknya berperan sebagai mediator atau pelatih, bukan sekadar menjadi wasit yang menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Respons yang tepat membantu anak memahami cara mengelola emosi sekaligus menyelesaikan masalah dengan saudaranya.
Hentikan kekerasan tanpa memperkeruh suasana
Saat anak mulai saling mendorong, memukul, menendang, atau menggunakan benda untuk menyakiti, pisahkan mereka dengan tenang. Hindari membalas dengan teriakan atau kemarahan karena tindakan itu dapat membuat situasi semakin tegang.
Orang tua perlu menyampaikan batas yang jelas bahwa memukul, menendang, maupun menyakiti saudara tidak dapat diterima. Setelah keduanya lebih tenang, pembicaraan mengenai penyebab pertengkaran dapat dilakukan. Orang tua juga sebaiknya peka terhadap tanda-tanda konflik yang mulai meningkat agar dapat melakukan intervensi sebelum terjadi kekerasan.
Dalam menentukan respons, orang tua tidak perlu langsung memutuskan siapa yang bersalah atau otomatis membela anak yang lebih kecil. Kalimat seperti “Kamu kan kakaknya, harus mengalah” atau “Adik masih kecil” dapat membuat salah satu anak merasa diperlakukan tidak adil. Melansir CNN Health, terapis keluarga menilai keberpihakan semacam itu berpotensi meningkatkan kekesalan anak terhadap saudaranya.
Perbedaan usia juga tidak berarti satu anak harus selalu mengalah. Orang tua perlu berusaha memahami sudut pandang kedua anak sebelum membantu mereka mencari penyelesaian.
Beri ruang, lalu dengarkan kedua sisi
Jika pertengkaran masih aman dan tidak melibatkan kekerasan, orang tua dapat memberi kesempatan kepada anak untuk mencoba menyelesaikannya sendiri. Anak bisa diarahkan untuk menyampaikan keinginan dengan kata-kata, bukan berteriak atau saling menyalahkan.
Anak berusia di bawah 8 tahun umumnya belum cukup mampu mengelola konflik secara mandiri. Karena itu, orang tua dapat mendampingi sebagai mediator tanpa mengambil alih seluruh proses. Anak tetap perlu memiliki kesempatan belajar, dengan pemahaman bahwa bantuan akan diberikan jika keadaan memburuk.
Setelah emosi mereda, dengarkan cerita kakak dan adik secara bergantian. Jangan terburu-buru meminta mereka saling meminta maaf sebelum masing-masing menjelaskan apa yang terjadi. Mendengarkan bukan berarti membenarkan perilaku anak. Rasa marah dan kecewa boleh muncul, tetapi menyakiti orang lain tetap bukan cara yang tepat untuk meluapkannya.
Cari solusi dan kurangi persaingan
Sesudah kedua anak didengar, bantu mereka menemukan jalan tengah. Dalam perebutan satu mainan, misalnya, orang tua dapat membantu menentukan giliran atau menawarkan kegiatan lain yang bisa dilakukan bersama. Dari proses itu, anak belajar berbagi, berkompromi, dan mencari solusi.
Orang tua juga sebaiknya tidak membandingkan kakak dan adik. Persaingan dapat semakin kuat ketika anak merasa harus berebut perhatian. Meluangkan waktu bersama masing-masing anak secara terpisah dapat membantu mengurangi perasaan tersebut.
Pertengkaran kecil tidak selalu perlu dibesar-besarkan. Namun, jika anak sudah saling memukul, menendang, mendorong dengan keras, mengancam, atau memakai benda untuk menyakiti, keselamatan harus menjadi prioritas. Setelah situasi aman, orang tua dapat membahas dampak perilaku mereka terhadap saudara dan apa yang bisa dilakukan secara berbeda ketika konflik kembali muncul.
