11.9 C
Munich

Shikoku, Hidden Gem Jepang dengan Alam Menakjubkan

Harus dibaca

Di tengah popularitas Tokyo, Kyoto, dan Osaka, Pulau Shikoku menawarkan wajah Jepang yang lebih tenang. Pulau utama terkecil di Jepang ini mempertemukan lanskap pedesaan, pegunungan, pantai, pemandian air panas, budaya tradisional, serta kuliner khas dari empat prefektur: Tokushima, Kagawa, Ehime, dan Kochi.

Shikoku berada di antara Laut Pedalaman Seto dan Samudra Pasifik. Karakternya yang lebih rural membuat sejumlah tradisi bertahan kuat. Sejarawan David Moreton, yang selama hampir tiga dekade mempelajari ziarah Shikoku, menyebut pulau itu memiliki karakter berbeda dibandingkan wilayah Jepang yang lebih ramai.

“Shikoku adalah sebuah pulau di dalam negara kepulauan,” kata Moreton. Menurut dia, perpaduan alam, sejarah, budaya, kuliner, dan tradisi ziarah yang telah berlangsung selama berabad-abad menjadi daya tarik utama pulau tersebut.

Menelusuri 88 kuil di Shikoku

Salah satu pengalaman paling khas di Shikoku adalah Shikoku 88 Temple Pilgrimage atau Shikoku Henro. Jalur ini menghubungkan 88 kuil yang berkaitan dengan Kobo Daishi atau Kukai, tokoh penting dalam perkembangan agama Buddha di Jepang.

Rutenya mengelilingi pulau dengan panjang sekitar 1.400 hingga 1.450 kilometer. Mereka yang ingin menuntaskan seluruh perjalanan dengan berjalan kaki membutuhkan waktu berminggu-minggu. Namun, wisatawan tidak harus menyelesaikan semua bagian rute karena sejumlah kuil dapat dijangkau menggunakan kendaraan umum.

Perjalanan tersebut melewati jalan raya, kota-kota kecil, area pertanian, hutan, jalur pegunungan, hingga kawasan alam yang lebih terpencil. Di sepanjang rute, wisatawan dapat menemukan ryokan, penginapan di kuil, serta tempat menginap yang dikelola masyarakat lokal.

Menurut Moreton, semakin banyak orang mengikuti ziarah itu bukan semata-mata karena alasan keagamaan. “Untuk lebih banyak berpikir tentang kehidupan dan memberi rasa syukur atas apa yang telah mereka miliki,” ujarnya.

Keramahan penduduk juga menjadi bagian penting dalam pengalaman tersebut. Tradisi membantu peziarah dikenal dengan istilah o-settai. Matthew Bennett, peziarah yang turut merancang perjalanan berkelanjutan untuk perusahaan tur Yugen DMC, menjelaskan bahwa para peziarah dianggap sebagai perwujudan Kobo Daishi.

“Jadi ketika orang membantu Anda, sebenarnya mereka sedang membantu Kobo Daishi secara langsung,” kata Bennett. Ia telah menyelesaikan jalur itu empat kali dan menyebut keinginannya untuk kembali sebagai “Shikoku-byo” atau “penyakit Shikoku”.

Alam, pemandian air panas, dan kuliner khas

Di Tokushima, wisatawan dapat menjelajahi Lembah Iya yang dikelilingi pegunungan dan masih memiliki suasana tenang. Di kawasan itu terdapat Iya Kazurabashi, jembatan gantung sepanjang sekitar 45 meter yang dibuat dari tanaman merambat.

Sementara itu, Cape Ashizuri di Kochi berada di titik paling selatan Shikoku. Kawasan ini menawarkan jalur berjalan kaki di tepi laut, pemandangan garis pantai, mercusuar, dan area pemandian air panas. Cape Ashizuri juga termasuk dalam rute ziarah 88 kuil, dengan Kongofukuji sebagai salah satu kuil di wilayah tersebut.

Setiap prefektur memiliki kekhasan kuliner dan budaya. Kagawa dikenal sebagai “Prefektur Udon” berkat Sanuki udon. Pengunjung juga dapat mengikuti pengalaman membuat udon di Nakano Udon School, Kotohira.

Kochi menawarkan hasil pertanian seperti yuzu, melon musk, dan pir Niitaka. Di Desa Umaji, yuzu hadir dalam berbagai makanan dan pengalaman pemandian air panas. Ehime memiliki Dogo Onsen, pemandian air panas bersejarah. Adapun Tokushima dikenal melalui budaya indigo, festival Awa Odori yang digelar setiap Agustus, pusaran air Naruto, serta kerajinan Otani Ware.

Source link

Berita Terbaru