9.6 C
Munich

Stoikisme vs Mindfulness: Apa Bedanya?

Harus dibaca

Stoikisme dan mindfulness sama-sama kerap digunakan untuk membantu seseorang menghadapi stres, masalah, atau keadaan yang tidak sesuai harapan. Keduanya juga mendorong jeda sebelum seseorang memberikan reaksi. Namun, kesamaan dalam praktik itu tidak berarti keduanya memiliki dasar pemikiran dan tujuan yang sama.

Perbedaan utamanya terletak pada pertanyaan yang hendak dijawab. Mindfulness berangkat dari upaya menyadari pengalaman yang sedang berlangsung tanpa buru-buru menghakimi atau meresponsnya. Stoikisme bergerak lebih jauh: seseorang diajak menilai keadaan dengan rasio, membedakan hal yang dapat dikendalikan dan yang berada di luar kendali, lalu menentukan tindakan yang selaras dengan kebajikan.

Mindfulness berfokus pada pengalaman saat ini

Mindfulness memiliki akar dalam tradisi Buddha dan kemudian berkembang dalam berbagai bentuk di psikologi modern. Dalam konteks psikologi, mindfulness umumnya dipahami sebagai kemampuan atau proses untuk memperhatikan pengalaman yang sedang terjadi dengan kesadaran tertentu, disertai penerimaan dan sikap tidak langsung menghakimi.

Definisi mindfulness memang beragam. Namun, sejumlah unsur yang sering muncul mencakup perhatian terhadap pengalaman saat ini, kesadaran, penerimaan, serta sikap tidak reaktif. Dengan kata lain, mindfulness membantu seseorang mengenali apa yang sedang terjadi dalam pikiran, perasaan, atau pengalaman dirinya tanpa otomatis terseret oleh semua itu.

Pendekatan ini tidak terutama berusaha menentukan apakah suatu keadaan merupakan kehidupan yang baik atau tindakan yang bajik. Titik awalnya adalah kesadaran: apa yang sedang dialami sekarang, dan bagaimana seseorang dapat mengamatinya tanpa segera bereaksi secara spontan.

Stoikisme menekankan penilaian dan tindakan

Stoikisme merupakan aliran filsafat yang berkembang pada periode Helenistik di Yunani, kemudian berpengaruh di Romawi. Zeno dari Citium, Seneca, Epictetus, dan Marcus Aurelius termasuk tokoh yang sering dikaitkan dengan aliran ini.

Dalam stoikisme, ketenangan saat menghadapi masalah bukan satu-satunya tujuan. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana manusia menjalani kehidupan yang baik. Jawabannya berkaitan dengan penggunaan rasio, pembentukan karakter, kebajikan, serta cara menilai dan merespons berbagai peristiwa.

Salah satu gagasan penting dalam stoikisme adalah membedakan hal-hal yang berada dalam kendali seseorang dari hal-hal yang tidak dapat dikendalikannya. Prinsip ini bukan ajakan untuk bersikap cuek atau pasrah. Seseorang tetap dituntut bertindak, tetapi tidak menjadikan sesuatu di luar kendalinya sebagai satu-satunya ukuran atas dirinya.

Penelitian berjudul Seneca Meets the Buddha: The Relationship Between Buddhist and Stoic Mindfulness turut mengkaji hubungan antara mindfulness yang berakar dari tradisi Buddha dan konstruksi stoik. Para peneliti menemukan hubungan antara keduanya, termasuk melalui konsep yang mereka sebut “stoic mindfulness”. Hubungan itu terlihat kuat pada aspek non-reactivity, yakni kemampuan untuk tidak langsung terseret pengalaman atau bereaksi spontan.

Meski memiliki titik temu tersebut, penelitian itu tidak menyimpulkan bahwa stoikisme dan mindfulness adalah hal yang sama. Mindfulness terutama bertanya, “Apa yang sedang terjadi dalam diriku sekarang?” Sementara itu, stoikisme melanjutkan pertanyaan tersebut: “Bagaimana seharusnya aku menilai keadaan ini dan bertindak?”

Source link

Berita Terbaru