11.9 C
Munich

Kapal Perintis, Jembatan Asa Warga Pulau Sabutung Pangkep

Harus dibaca

Bagi warga Pulau Sabutung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, kapal perintis bukan sekadar sarana menyeberang. Kapal itu menjadi penghubung menuju sekolah, kantor pemerintahan, pasar, serta berbagai kebutuhan yang berada di daratan.

Setiap pagi, warga bergegas menuju dermaga untuk bepergian ke wilayah Kabupaten Pangkep. Dari 1.453 penduduk Pulau Sabutung, sebagian harus menyeberang untuk berdagang, mengurus administrasi, memenuhi kebutuhan sehari-hari, atau menjalankan tugas sebagai aparatur sipil negara (ASN).

Haedar, guru Sekolah Pesantren Kelautan Perak di Pulau Sabutung, termasuk warga yang rutin melakukan perjalanan tersebut. Baginya, laut bukan hanya batas geografis antara pulau dan daratan, melainkan bagian dari rutinitas untuk menjalankan pekerjaan.

Sejak kapal perintis milik PT ASDP Indonesia Ferry Regional 4 beroperasi pada 23 Januari 2023, mobilitas warga menjadi lebih mudah. Tarifnya sekitar Rp21 ribu per orang. Penumpang yang membawa sepeda motor hanya dikenai tambahan Rp5 ribu.

“Kalau naik kapal perintis tarifnya sangat terjangkau, sekitar Rp21 ribu per orang. Kalau membawa motor hanya tambah Rp5 ribu. Ini sangat membantu kami yang sering bolak-balik ke kota Kabupaten Pangkep,” kata Haedar.

Tarif terjangkau dan perjalanan lebih aman

Biaya tersebut lebih rendah dibandingkan ongkos menyewa kapal kayu atau kapal nelayan yang dapat mencapai Rp50 ribu hingga Rp100 ribu untuk sekali perjalanan per orang. Bagi masyarakat yang harus berulang kali bepergian, perbedaan biaya itu berpengaruh langsung terhadap pengeluaran sehari-hari.

Selain ongkos, faktor keamanan menjadi pertimbangan penting. Warga kepulauan harus menghadapi perubahan cuaca yang dapat membuat angin menguat dan gelombang meninggi. Dalam situasi seperti itu, Haedar menilai kapal perintis lebih aman dibandingkan kapal kayu atau kapal nelayan.

Ketersediaan angkutan tersebut membantu berbagai aktivitas tetap berjalan. Guru dapat memenuhi kewajiban mengajar, ASN dapat menjalankan urusan pemerintahan, pedagang dapat membawa barang dagangan, sedangkan warga lain memiliki akses yang lebih mudah menuju layanan dan kebutuhan di daratan.

Bagian dari penguatan konektivitas Indonesia Timur

Executive Director ASDP Regional 4 Imran Kuru mengatakan penguatan konektivitas menjadi salah satu fokus perusahaan karena wilayah kerja Regional 4 mencakup Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Regional tersebut memiliki 10 cabang, terdiri atas lima cabang di Sulawesi, dua di Maluku, dan tiga di Papua.

Di Sulawesi Selatan, konektivitas itu antara lain terlihat pada lintasan Maccini Baji-Pulau Sabutung di Pangkep serta lintasan Bajoe, Sulsel-Kolaka, Sulawesi Tenggara. Untuk lintasan Bajoe-Kolaka, ASDP mencatat lebih dari 28 ribu penumpang dan sekitar 56 ribu kendaraan dilayani pada periode Januari 2025 hingga Februari 2026.

ASDP Regional 4 juga melihat peluang pengembangan bisnis melalui konektivitas dan logistik, termasuk kemungkinan membuka koneksi menuju Surabaya, Jawa Timur. Pengembangan tersebut dipertimbangkan berdasarkan permintaan serta data produksi.

Konektivitas laut juga dinilai dapat mendukung pariwisata di kawasan kepulauan. ASDP bersama Universitas Hasanuddin di Makassar sedang menjajaki produksi perahu tradisional Phinisi yang pembuatannya akan didampingi agar memenuhi standar kapal dan menjaga keamanan penumpang.

Bupati Pangkep Muhammad Yusran Lalogau mengatakan, bagi masyarakat pulau, keberadaan kapal menentukan kemudahan mereka mengakses kehidupan di luar pulau. Pangkep merupakan kabupaten dengan jumlah pulau terbanyak di Sulawesi Selatan, yakni 117 pulau yang tersebar di Selat Makassar hingga wilayah yang berdekatan dengan Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Laut tetap menjadi pemisah secara geografis, tetapi layanan penyeberangan membuat jarak tidak selalu menghalangi warga untuk bekerja, belajar, berdagang, dan memperoleh pelayanan publik.

Source link

Berita Terbaru